![]() |
| zakariya arif fikriyadi |
indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari
17.504 pulau. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat sebanyak
15.337 pulau di Indonesia tidak berpenghuni sementara sekitar 2.342
pulau berpenghuni. Dengan kondisi geografis yang berpulau-pulau
tersebut, Pemerintah mengalami kesulitan dalam memenuhi sarana dan
prasarana di seluruh penjuru negeri, misalnya: sarana kesehatan,
pendidikan, ketersediaan air bersih dan listrik. Khusus untuk listrik,
rasio elektrifikasi di Indonesia pada tahun 2013 secara keseluruhan
adalah 79,3 % yang artinya sekitar 20,7 % masyarakat Indonesia belum
menikmati akses listrik. Terlebih lagi di beberapa daerah rasio
elektrifikasinya masih sangat rendah, misalnya NTT (54,8 %) dan Papua
(36,4 %).
Padahal, di samping dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
penerangan di sektor rumah tangga, listrik dibutuhkan untuk menyokong
kelancaran kegiatan di Puskesmas, kantor Pemerintahan maupun sekolah di
seluruh penjuru negeri. Lebih besar lagi, ketersediaan listrik sangat
dibutuhkan dalam kaitannya untuk menyokong perekonomian di setiap
daerah. Terlebih dalam rangka menyambut perdagangan bebas di antara
negara ASEAN yang terangkum dalam AFTA (ASEAN Free Trade Area)
pada tahun 2015. Ketersediaan infrastruktur listrik sangat dibutuhkan
untuk menyokong berbagai industri dalam memproduksi barang-barangnya.
Jika pasokan listrik berkurang, maka roda perputaran produksi barang
juga akan terhambat sehingga dapat terancam oleh kehadiran produk-produk
dari negara ASEAN lainnya. Kebutuhan energi listrik juga erat kaitannya
dengan usaha Pemerintah untuk meningkatkan jumlah wisatawan dengan
membangun beberapa destinasi wisata baru seperti dilansir Kementerian
Kelautan dan Perikanan, antara lain di Sulawesi Selatan ada di Takabone
Rate dan Kapoposan. Sulawesi Utara di Bunaken, Sulawesi Tenggara ada
Wakatobi. Di Maluku ada Laut Banda dan Raja Ampat di Teluk Cendrawasih.
Energi listrik sangat dibutuhkan untuk menjamin kenyamanan tempat wisata
berstandar internasional.
Kondisi infrastruktur kelistrikan
tersebut berbanding terbalik dengan kekayaan potensi energi terbarukan.
Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya energi yang sangat
melimpah. Letaknya di lingkar gunung api menyebabkan Indonesia menjadi
negara yang sangat kaya akan potensi energi geothermal yaitu sebesar
27.357 MWe (Wahyuningsih, 2005). Lokasi Indonesia di daerah iklim tropis
menyebabkan Indonesia memiliki potensi sinar matahari yang bersinar
sepanjang tahun. Berdasarkan data Kementrian ESDM pada tahun 2011
potensi rata-rata radiasi surya di Indonesia adalah sekitar 4,8 kWh/m2/hari
dengan variasi bulanan sekitar 9%. Belum lagi angin yang bertiup,
deburan gelombang air laut yang senantiasa bergerak serta ribuan sungai
dengan gemericik airnya, semuanya merupakan potensi energi terbarukan
milik Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan hayati maupun hewani
sehingga Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar.
Pemanfaatan
energi terbarukan untuk menghidupkan listrik tersebut dapat dibagi
menjadi dua skala, yaitu skala besar dan kecil bergantung dengan
kebutuhan listrik dan potensinya. Skala besar ditujukan untuk menyokong
kebutuhan listrik di perkotaan dimana berkembang industri dan memiliki
jumlah warga yang banyak dan pemukimannya terpusat. Sumber pembangkit
tersebut dapat berupa geothermal, PLTS, Pembangkit Listrik Tenaga Air,
Pembangkit Tenaga Ombak dan lain-lain sesuai dengan potensi di
masing-masing daerah.
Pembangunan pembangkit skala besar misalnya
untuk keperluan pembangunan kawasan wisata di daerah kepulauan yang
terpisah dari pulau utama. Salah satu contoh lokasi tersebut adalah di
Takabone Rate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi
Sulawesi Selatan. Daerah tersebut berjarak 80 km dari pulau utama
Sulawesi sehingga terputus dari jaringan utama listrik di Sulawesi.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya merupakan salah satu teknologi yang
dapat diaplikasikan di daerah tersebut, khususnya untuk menyokong
kebutuhan rumah tangga sekaligus menyokokng sektor pariwisata.
Sementara
untuk keperluan industri dan pemenuhan energi listrik skala perkotaan,
misalnya di daerah Nusa Tenggara, dapat memanfaatkan potensi energi arus
laut. Di perairan NTB dan NTT terdapat sepuluh selat yang diperkirakan
memiliki arus laut cukup kuat, yaitu: Alas, Sape, Linta, Molo, Flores,
Boleng, Lamakera, Pantar dan Alor. Berdasarkan data dari BPPT, potensi
masing-masing selat adalah 300 MW dengan asumsi jumlah turbin 100 buah
masing-masing sebesar 3 MW, maka dihasilkan energi listrik hingga 3000
MW.
Skala pembangkit yang kecil ditujukan untuk pemukiman yang
tidak padat dan jarak antar rumah sangat jauh. Salah satu bentuk
pembangkit untuk skala yang kecil adalah Solar Home System
(SHS). SHS merupakan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas
yang cukup untuk keperluan penerangan. Pada umumnya, spesifikasi SHS
yang ada adalah panel surya 50 Wp, baterai 60 Ah dan 3 buah lampu 10 W.
SHS tersebut dapat digunakan untuk menerangi rumah sepanjang malam.
Puskesmas,
sekolahan maupun perkantoran di daerah-daerah terpencil khususnya
daerah yang terletak di perbatasan, misalnya perbatasan Kalimantan Utara
dengan Malaysia dapat memanfaatkan teknologi SHS untuk menghidupkan
listrik. Selain digunakan untuk penerangan, SHS dengan skala yang lebih
besar lagi dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan peralatan-peralatan
elektronika seperti televisi dan radio.
Pemanfaatan energi
terbarukan untuk menghidupkan listrik di seluruh penjuru Indonesia
sangat cocok untuk diterapkan karena energi terbarukan dengan berbagai
macam sumbernya tersebar merata di seluruh penjuru Indonesia.
Pemanfaatan energi terbarukan tersebut sangat cocok untuk menjangkau
daerah-daerah terisolir yang terputus dari jaringan listrik utama di
kota besar sehingga dapat mempercepat target PLN dalam menaikkan rasio
elektrifikasi mencapai 99% di tahun 2020.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Atas Komentar Anda