Target kristenisasi WorldHelp terhadap anak aceh

Apa misi WorldHelp terhadap anak aceh? simak terus berita ini sampai habis ya? Keimanan rakyat Aceh terutama anak-anaknya pun terancam diporak-porandakan  misionaris Kristiani. Serbuan misionaris Kristen di Aceh bukan isapan mimpi.  The Washington Post melaporkan bahwa sekelompok  misionaris Kristen dari Virginia AS, telah memindahkan 300 anak yatim Aceh ke  panti Kristen di Jakarta. Seperti dikutip koran Republika, WorldHelp, kelompok misionaris itu, menjemput langsung anak-anak Aceh itu dari Banda Aceh terus dibawa ke Jakarta, dan ditempatkan di keluarga-keluarga Kristen.

misi kristenisasi WorldHelp terhadap anak acehWorldHelp menyatakan bencana besar di Aceh yang membuat mereka membawa  anak-anak itu. ''Di masa normal, Banda Aceh tertutup bagi orang asing dan juga  penyebar agama,'' kata pernyataan WorldHelp di situs internetnya. Tapi, lanjut  organisasi keagamaan ini, karena kondisi darurat tak terelakkan, ada gempa tektonik dan tsunami, para misionaris memiliki hak untuk masuk dan menyebarkan agama mereka.

WorldHelp termasuk organisasi amal dan keagamaan yang terjun ke Serambi Makkah  begitu tsunami menerjang pada 26 Desember lalu. Berbeda dengan organisasi  sosial kemanusiaan lainnya yang membantu, WordlHelp, seperti dikatakan  Washington Post, membawa misi untuk mengkristenkan anak-anak yang mereka bawa.  presiden WorldHelp, Pendeta Vernon Brewer, mengatakan organisasinya telah  mengumpulkan 70 ribu dolar AS untuk Aceh. Targetnya, kata Vernon, sampai 350 ribu dolar AS. Pemerintah Indonesia, jelasnya, sudah memberikan izin WorldHelp untuk membawa anak-anak itu ke Jakarta. ''Pemerintah Indonesia juga sadar bahwa mereka akan kami Kristenkan,'' kata Vernon.

''Kita memberikan Injil karena korban bencana selalu mempertanyakan keberadaan  Tuhan,'' kata Oliver Asher, juru bicara Advancing Native Missions. Bisa  dibayangkan, sambungnya, ada gelompang setinggi 15 meter dan banyak korban  jatuh, tentu mereka bertanya-tanya soal Tuhan. Operation Mobilization, organisasi keagamaan berbasis di Tyrone, AS, juga telah mengumpulkan 60 ribu  dolar AS. Douglas R Barclay, wakil presiden organisasi itu, mengatakan pihaknya mendukung kegiatan 3.700 misionaris di 110 negara. Relawan FPI, seperti dilaporkan tempointeraktif.com, juga melihat sejumlah bantuan yang disalurkan melalui PMI bermuatan unsur misi Kristen. Ada ratusan kardus bantuan yang kemasannya bertulis Jesus Loves You.

Anjuran misi Para misionaris Kristen tentu paham bahwa Aceh adalah wilayah Muslim. Tetapi, mereka memanfaatkan kesempatan untuk menyebarkan misi. Dan itu bukan cerita baru. Sejak dulu, para misionaris Kristen sadar benar, bahwa wilayah Muslim adalah wilayah yang paling sulit ditaklukkan misi Kristen. Karena itu, adalah prestasi besar, jika mereka berhasil menembus wilayah Muslim. J Christy Wilson, seorang misionaris Kristen, menyatakan misi Kristen terhadap pengikut Muhammad mungkin merupakan tugas misionaris yang paling berat.

Para evangelis Kristen, sejak dulu, berusaha menaklukkan dunia Islam dengan bebagai cara. Mereka percaya, kaum Muslim bisa ditaklukkan dengan kasih dan argumentasi. Kata-kata Henry Martin, misionaris terkenal, I come to meet the Moslems, not with arms but with words, not by force but by reason, not in hatred but in love. Bagi para misionaris Kristen ini, mengkristenkan kaum Muslim adalah satu keharusan. Jika tidak, menurut mereka, maka dunia pun akan diislamkan.

Dalam laporan tentang Centenary Conference on the Protestant Missions of the World di London tahun 1888, tercatat ucapan Dr George F Post, We must meet Pan-Islamism with pan-Evangelism. It is a fight for life. Selanjutnya, dia berpidato, ''We must go into Arabia; we must go into the Soudan; we must go into central Asia; and we must Christianize these people or they will march over their deserts, and they will sweep like a fire that shall
devour our Christianity and destroy it.''

Misi Kristen harus dijalankan. Jika kaum Muslim diwajibkan untuk berdakwah dan menyeru umat manusia untuk memeluk Islam, maka kaum Kristen juga memiliki ideologi misi semacam itu. Dalam soal ideologi misi Kristen, tidak ada perbedaan antar berbagai kelompok Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Bahkan, setelah Konsili Vatikan II, yang sering dikatakan membawa angin segar bagi hubungan antar-gama, misi kewajiban menjalankan misi Kristen ke seluruh dunia tetap ditekankan. Dalam The Decree on the Missionary Activity of the Church (Ad Gentes), disebutkan, bahwa gereja memiliki tugas suci untuk menyebarkan Injil kepada seluruh bangsa dan seluruh manusia. Dokumen Ad Gentes disetujui dengan voting para peserta Konsili dengan suara 2394 setuju dan 5 menolak. Dokumen ini diumumkan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965.

Bishop Donal Lamont, seorang peserta Konsili, menyatakan, bahwa Dekrit ad Gentes (artinya: kepada bangsa-bangsa), adalah dokumen yang paling tegas dalam sejarah Konsili Gereja. Dokumen ini menekankan, bahwa semua Gereja adalah misionaris. Dalam pidatonya, Evangelii Nuntiandi, 8 December 1975, Paus Paulus VI menyatakan, bahwa evangelisasi adalah proklamasi Tuhan Jesus kepada umat manusia yang belum mengenalnya. Paus Yohanes Paulus II juga menyatakan bahwa Islam bukanlah agama penyelamatan. Tidak ada tempat dalam Islam, untuk Salib dan Kebangkitan Jesus.

Maka, dalam Redemptoris Mission, 7 December 1990, Paus Yohanes Paulus II menyerukan: bukalah pintu buat Kristus, wahai manusia di mana saja. Anda tidak akan kehilangan kebebasan Anda dengan membuka diri Anda terhadap kata-kata Tuhan. Jumlah orang yang tidak mengenal Kristus terus bertambah. Sejak akhir Konsili Vatikan II jumlah itu menjadi dua kali lipat. (Karena itu), saatnya telah tiba untuk menghimpun segala energi gereja untuk menjalankan evangelisasi dan misi Kristen kepada semua umat manusia.

Begitulah semangat kaum Kristen Katolik dalam menjalankan misi Kristen. Padahal, pada saat yang sama, dalam dokumen Konsili Vatikan II yang lain (nostra aetate), mereka juga menyatakan, bahwa mereka menghormati kaum Muslim. Kaum Muslim dikatakan menyembah satu Tuhan. Meskipun selama berabad-abad antara Muslim dan Kristen terlibat dalam konflik dan permusuhan, kaum Muslim didesak untuk melupakan masa lalu dan bekerja sama untuk mewujudkan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan kebebasan.

Pada faktanya, dokumen-dokumen Konsili Vatikan itu seperti saling bertabrakan. Jika dikatakan, bahwa keselamatan sudah dapat dicapai melaluin agama lain, di luar Kristen, mengapa kaum Kristen masih diwajibkan menjalankan misi Kristen, bahkan dinyatakan, semua manusia harus dibaptis? Mengapa mereka ngotot untuk mengarahkan misi Kristen kepada kaum non-Kristen, di luar negara-negara Barat? Mengapa usaha Kristenisasi tidak diarahkan kepada orang-orang Barat yang jelas-jelas mengalami de-Kristenisasi? Mengapa Kristenisasi masih saja diarahkan kepada kaum yang sudah memeluk agamanya masing-masing? Kaum Kristen perlu memikirkan masalah ini dengan serius.

Di Indonesia, sejak dulu, sudah disarankan, agar penyebaran agama tidak diarahkan kepada orang-orang yang sudah memeluk agamanya masing-masing. Namun, kaum misionaris Kristen selalu menolak hal itu, sebab mereka mengaku, bahwa menjalankan misi Kristen adalah kewajiban dasar mereka sebagai seorang Kristen. Pada 3 Oktober 1967, Majelis Dakwah Pelajar Islam Indonesia (PII) mengeluarkan seruan:

Menyerukan kepada kaum Kristen/Katolik untuk menghentikan usaha-usaha provokatif propaganda-propaganda/bujukan-bujukan dengan cara apa pun terhadap umat Islam.

Seruan semacam itu banyak sekali ditujukan kepada kaum Kristen. Tetapi, tentu  saja sulit dipenuhi. Dalam Musyawarah Kerukunan Umat Beragama tahun 1967, pihak Kristen menolak keras usulan pihak Islam untuk menyepakati klausul tidak menjadikan umat yang beragama sebagai sasaran penyebaran agama masing-masing. Alasannya, agama Kristen adalah agama misioner dan manusia memiliki hak asasi untuk berpindah agama.

Bagaimana pun, kata Berkhof, Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jadi tugas zending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk
Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah.

Jadi, bagi kaum misionaris Kristen, pemurtadan terhadap anak-anak Muslim, anak-anak terlantar, kaum dhuafa, korban bencana alam, dan lain-lain, adalah sebuah tugas suci dari Tuhan. Bentuk-bentuk pemurtadan semacam ini, mudah dilihat dan segera menarik simpati banyak kalangan Muslim. Yang perlu dicermati juga sebagaimana disarankan Berkhof V adalah pemurtadan kalangan cendekiawan dan pemimpin masyarakat Muslim. Meskipun namanya masih muslim, tetapi pola pikir dan hatinya sudah menjadi laksana Kristen.

Kaum Muslim tidak bisa hanya menyalahkan kaum Kristen karena menyebarkan agama mereka. Yang perlu dilakukan kaum Muslim adalah meningkatkan kemampuan dakwah mereka, agar mampu menyadarkan para pemuka-pemuka gereja, bahwa kepercayaan yang mereka pegang selama ini keliru. Kaum Muslim perlu bersifat agresif dan lebih aktif mendakwahi para misionaris Kristen.

Sumber : Washington Post
Baca juga informasi ribuan warga aceh pindah agama

Target kristenisasi WorldHelp terhadap anak aceh Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Zone Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas Komentar Anda