![]() |
| Koin untuk australia |
Australia memberikan klarifikasi kepada Indonesia terkait pernyataan Perdana Menteri Tony Abbott tentang bantuan untuk korban Tsunami Aceh 2004.
Mengutip Sidney Morning Herarld Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, Jumat (20/2), melakukan komunikasi langsung dengan Wakil Presiden RI Jusuf Jalla terkait rencana eksekusi mati dua gembong narkoba asal Australia. Langkah ini merupakan respons atas saran dan rekomendasi yang diberikan Kedutaan Besar Australia di Indonesia.
Bishop berusaha meluruskan pernyataan Abbott. Ia menilai, pernyataan tersebut bukan berarti negaranya sedang menekan Indonesia untuk menggagalkan eksekusi mati, melainkan menjelaskan sejarah panjang dan hubungan baik kedua negara ini.
"Saya menyesal jika komentar ini dipandang sebagai hal yang lain," ujarnya.
Bishop menambahkan, dalam pembicaraan tersebut tidak ada pernyataan mengenai waktu eksekusi mati dua gembong narkoba asal Australia. Ia berharap Indonesia dan Australia bisa bekerja sama dalam cara-cara untuk mengatasi masalah narkoba dan sindikat narkoba.
Secara prinsip, kata Bishop, negaranya siap bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk menanggulangi sindikat peredaran barang haram tersebut. Australia mengusulkan cara agar dapat bekerja sama dengan RI untuk menyelamatkan nyawa rakyat Indonesia dari bahaya narkoba. "Kedua negara kini telah menjadi korban perdagangan barang berbahaya ini," tuturnya.
Bishop berharap pernyataannya ini dapat membuat perbedaan untuk menurunkan ketegangan yang terjadi antara Australia dan Indonesia beberapa hari terakhir.
Pada Kamis (19/2), Abbott memang telah meluruskan pernyataannya tersebut. Menurutnya, diungkitnya bantuan tsunami bukan berarti Australia memiliki pamrih.
Ia hanya menunjukkan kedalaman persahabatan antara Australia dan Indonesia ketika ia mengaitkan bantuan asing untuk nasib Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.
"Australia ada ketika Indonesia da lam kesulitan," katanya kepada warta wan di Tasmania, seperti dilansir Skynews, Kamis (19/2).
Manuver Abbott itu ditanggapi santai oleh Pemerintah RI. Wapres JK menilai pernyataan Abbott sebagai isyarat kekecewaannya terhadap Indonesia yang akan segera mengeksekusi dua narapidana mati warga negara Australia. "Tentunya semua pandangan-pandangan di banyak pihak itu semua menjadi bahagian dari perhatian dan konsentrasi kita," ungkap JK, di Jakarta, Kamis (19/2).
Menurut JK, proses hukum harus tetap berjalan. Meski begitu, Indonesia tidak serta- merta menutup telinga atas masukan dari pihak luar. JK juga membantah penundaan eksekusi mati dua narapidana tersebut karena pengaruh Tony Abbott. "Nggak ada (pengaruh Abbott). Tentu kita pikirkan banyak hal, tapi hukum tetap jalan," kata dia.
Sorotan
Meski demikian, pernyataan Abbott tersebut justru menjadi blunder. Tak sedikit publik Australia yang mengecam gaya diplomasi yang dinilai tak etis itu.
Pemimpin Partai Buruh Australia Bill Shorten memilih untuk berhati-hati dalam mengkritisi tindakan Abbott terkait rencana eksekusi mati dua warganya di Indonesia. Kata Shorten, Abbott saat ini sedang berada dalam situasi yang sulit. PM Australia itu sedang dalam sorotan menyusul komentarnya yang mengungkit kembali bantuannya kepada Indonesia saat musibah tsunami beberapa tahun lalu.
Pernyataan Abbott diyakini untuk menekan Pemerintah Indonesia agar mau membatalkan eksekusi mati dua warga Australia yang menjadi gembong narkoba. Masalah ini pun menggelinding menjadi isu politik.
Shorten pun mengaku tak akan mengambil keuntungan atas sikap Abbott itu. "Satu-satunya hal yang penting adalah dalam situasi seperti apa pun kita harus satu suara," ujarnya, seperti dilansir 9news, Kamis (19/2).
Sumber : republika.co.id
Baca juga informasi menarik lainnya Disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Atas Komentar Anda