![]() |
Peringatan 9 Tahun Mou Helsinki |
BANDA ACEH - Peringatan 9 Tahun Mou Helsinki menjadi catatan penting bagi Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah. Mantan Menteri Luar Negeri GAM itu menyatakan perjuangan GAM bersenjata menuntut keadilan dari Pemerintah Republik Indonesia sudah berakhir. Namun tidak dengan perjuangan politik.
"Mou Helsinki bertanda perang senjata telah kita akhiri dengan damai. Tapi perang politik belum usai, karena subtansi Mou Helsinki masih ada yang belum dilaksanakan," kata Zaini dalam pidato peringatan 9 Tahun Mou Helsinki di halaman Masjid Raya Baiturrahaman, Banda Aceh, Jumat (15/8).
Dikatakannya, sejarah mencatat GAM yang dideklarasikan Dr Hasan Muhammad Di Tiro pada 1976 berdamai dengan Pemerintah RI setelah 30 tahun terlibat konfllik bersenjata. Pergolakan itu mengalami banyak fase perundingan dan berakhir buntu. Namun kedua belah pihak berhasil berdamai setelah Crisist Management Initiative (CMI) yang dipimpin mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari memediasi kedua belah pihak untuk berunding. Alhasil, 15 Agustus 2005, di Gedung Koningsted, di tengah hawa sejuk Negara Finlandia, di Eropa, Malik Mahmud Al Haytar selaku perdana Menteri GAM dan Hamid Awaluddin, perwakilan Pemerintah RI menandatangani kesepakatan damai yang kemudian dikenal sebagai Mou Helsinki, yang menjadi babak baru rakyat Aceh menatap masa depan yang lebih baik.
Peristiwa di gedung Koningsted, 15 Agustus 2005 dicatat dalam sejarah sebagai tahun perdamaian Aceh. "Mou Helsinki, antara RI dengan GAM dilandasi atas niat untuk membawa perubahan bagi masyarakat Aceh," ujar Zaini yang juga mantan Menteri Luar Negeri GAM.
Meski tidak lagi sebagai tokoh tip top GAM, namun Malik Mahmud dan Zaini Abdullah masih memegang peranan penting dalam setiap tanggal bersejarah itu tiba. Di tengah hujan rintik di halaman Masjid Raya Baiturrahman, keduanya kembali menyampaikan pidato menyiratkan agar masyarakat Aceh menjaga damai yang telah bersemi di Aceh tetap abadi.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan 9 Tahun Mou Helsinki kali ini berlangsung sederhana ditandai dengan momen melepaskan burung merpati ke alam bebas sebagai simbol keabadian damai Aceh. Peringatan Mou ini turut dihadiri unsur pimpinan daerah dan jajaran SKPA, serta Wali Nanggroe Mahmud Al Haytar. Namun Wakil Gubernur Muzakir Manaf tak terlihat di antara para undangan. Kecuali itu, Pemerintah Aceh resmi menetapkan 15 Agustus sebagai Hari Damai Aceh di mana tonggak bersejarah penandatanganan Mou Helsinki di Finlandia yang menandai berakhirnya konflik bersenjata antara Pemerintah RI dan GAM.
Peringatan 9 Tahun Mou Helsinki kali ini merupakan yang terakhir dilaksanakan Pemerintah Aceh. Untuk tahun-tahun berikutnya, mulai 2015, peringatan Mou Helsinki ditetapkan sebagai Hari Damai Aceh. Peristiawa penandatanganan Mou Helsinki, kata Doto Zaini, dianggap sejarah penting yang tidak boleh dilupakan. Peristiwa itu didorong karena niat GAM yang ingin mengubah nasib rakyat Aceh yang didera konflik bersenjata selama hampir 30 tahun. Pada hari bersejarah itu pula, kata Zaini Abdullah, GAM mengakhiri perjuangan bersenjata menjadi perjuangan politik menuntut keadilan.
Ingkari komitmen
Zaini mengakui, kendati usia perdamaian Aceh sudah 9 tahun, namun Pemerintah Aceh masih merasa diperlakukan tidak adil. Pemerintah Pusat, katanya, mengingkari komitmen yang telah disepakati kedua belah pihak dalam Mou Helsinki dengan mengabaikan tuntutan Pemerintah Aceh seperti yang termuat dalam butir-butirt Mou Helsinki.
Menurut Zaini, setidaknya hingga saat ini ada tiga butir kesepakatan Mou yang diabaikan Pemerintah Pusat. Yakni pembentukan Pengadilan HAM, Pembentukan Komisi Penyelesaian Klaim dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) serta beberapa turunan UUPA dalam bentuk Perpres dan Peraturan Pemerintah.
"Ini harus menjadi tugas bersama, tugas rakyat Aceh untuk menagihnya. Pemerintah Aceh, memiliki komitmen tinggi untuk menagih setiap janji Pemerintah Indonesia," ujarnya.
Pemerintah Aceh juga menuntut janji SBY yang berkomitmen akan menyelesaikan seluruh Perpres dan Peraturan Pemerintah turunan UUPA sebagaimana yang diucapkan Presiden pada pembukaan PKA VI 2013 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Namun kenyataaanya, hingga menjelang SBY turun dari tampuk kekuasaan pada Oktober nanti, komitmen tersebut tidak menujukkan kemajuan berarti.
"Kalau turunan UUPA ini tidak turun, maka saya khawatir rakyat Aceh akan bangkit untuk melawan ketidakadilan Pemerintah Pusat. Sejarah mencatat, bahwa setiap ketidakadilan bagi Aceh, rakyatnya akan melawan untuk menjaga harkat dan marwah ke-acehannya," tandas Zaini.
Doto Zaini juga menegaskan Pemerintah Aceh akan terus memacu pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Aceh dengan membangun berbagai infrasturktur guna menunjang perekonomian. Secara lebih khusus ia menekankan beberapa poin dari inti pidatonya pada Peringatan 9 Tahun Mou. Di antaranya mengimbau rakyat Aceh bersatu padu menjaga pedamaian dan terlibat dalam pembangunan, menghindari sikap provokasi dan saling menyalahkan, TNI/Polri diharapkan memberi rasa nyaman kepada masyarakat dan mengimbau agar eks kombatan GAM menjaga persatuan.
"Kombatan adalah elemen penting Mou Helsinki. Pihak terkait harus memberi peluang bagi pemberdayaan eks kombatan yang sesuai dengan kontitusi," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Wali Nanggroe Malik Mahmud menegaskan Perpres dan Peraturan Pemerintah turunan UUPA merupakan pedoman pembangunan Aceh yang memiliki kepastian hukum. "Pengorbanan di masa konflik sangatlah besar. Tapi pengorbanan di pascakonflik jauh lebih besar," ujarnya.
Malik Mahmud juga mengimbau semua pihak merekatkan simpul adat dan suku di Aceh untuk mengisi pembangunan dan menjaga damai di Bumi Aceh tetap abadi.
Doto Zaini juga menegaskan Pemerintah Aceh akan terus memacu pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Aceh dengan membangun berbagai infrasturktur guna menunjang perekonomian. Secara lebih khusus ia menekankan beberapa poin dari inti pidatonya pada Peringatan 9 Tahun.
Baca juga berita aceh lain nya disini ==> Berita Aceh
sumber : serambinews.com
editor : abyb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Atas Komentar Anda