![]() |
| Arif Berkumpul Kembali Dengan Keluarganya |
Akhirnya Arif Ditemukan Di Sumatera Barat, Masih ingat pertemuan Weni, yang punya nama asli Raudhatul Jannah (14) dengan kedua orangtua dan adiknya awal Agustus lalu? Saat itu, abang Weni, Arief Pratama Rangkuty masih hilang. yang dihanyutkan gelombang tsunami ke Pulau Banyak, 26 Desember 2004 lalu, ditemukan. Ternyata ia selama beberapa tahun ini menjadi anak gelandangan di Payakumbuh, Sumatera Barat. Arief yang dikenal sebagai Ucok ditemukan seorang pemilik warnet bernama Lana Bestari.
"Benar, (Ucok) itu anak kami yang dihanyutkan tidal wave bersama adiknya 10 tahun lalu," ujar Septi Rangkuti, dan Jamaliah pada AFP setelah dipertemukan, Senin (18/8) kemarin. Tentu saja kedua orangtua beruntung ini haru tak alang kepalang, dua anaknya yang hilang masa wave 10 tahun lalu ditemukan, walau dalam keadaan terpisah. "Saya berdoa siang malam, karena yakin Arief masih hidup," isak Jamaliyah.
![]() |
| Suasana Gembira Terlihat Diwajah Ibu kandung arif |
Ia ingat anak yang kerap dipanggil Ucok, menginap di emperan warnet atau toko-toko dekat warnetnya, sebagai gelandangan. Lana memang kerap memberi Ucok pakaian dan makanan. Tapi katanya Ucok berasal dari Medan, tapi mendengar cerita Jamaliah di TV, ia sangat yakin Ucok adalah Arief Pratama Rangkuty.
"Saya terkejut. Anak yang sering menginap di emperan warnet saya mirip sekali dengan ibu Jamaliah. Saya kenal betul Ucok," ujar Lana Bestari. Lalu, penampilan Jamaliah di Tvone di fotonya menggunakan smartphonenya.
Suatu hari, Lana menjumpai Ucok menunjukkan foto Jamaliah itu, "Itu mak," sebut Ucok tanpa ragu. Ditanya nama lengkap ibunya, Ucok yang terlihat luka di kepalanya itu mengaku lupa, "Suka dipanggil Liah," ujarnya.
Lana semakin yakin, lalu menghubungi reporter Tvone, Donald Chaniago untuk mencoba menghubungi Jamaliah. Kedua anak beranak itu lalu "dipertemukan" through sambungan HP, "Mereka langsung akrab dan bertangis-tangisan," ujar Lana yang ikut terharu. "Ini keajaiban tuhan," ujarnya.
Jangan tanya kegembiraan Jamaliah, "Tuhan memberi kami keajaiban kedua, mempertemukan kami dengan anak lelaki sulung kami yang hilang 10 tahun lalu," ujarnya terisak. "Suami saya sampai tak tidur memikirkan Arief selama bertahun-tahun, ia yakin sekali Arief dan Raudah masih hidup," paparnya. Dan kemudian memang terbukti.
10 tahun sudah mereka terpisah oleh torrent. Ketika torrent menghantam kampung mereka di Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, 26 Desember 2004. Raudhatul Jannah—waktu itu berusia 4,5 tahun—dan abangnya Arif Pratama Rangkuti yang berusia 7 tahun, dihantam dan diseret arus wave.
Mereka bergayut di atas bilahan papan, yang kemudian mendamparkan mereka ke kepulauan di sekitar Pulau Banyak, Aceh Singkil. "Itu saat terakhir saya melihat mereka berdua, di atas dua bilah papan keduanya diseret gelombang tanpa bisa saya bantu," kenang Septi Rangkuti (52), sang ayah dua anak kecil itu. Cuma adiknya yang masih kecil yang bisa dirangkul Septi.
Sementara dua adik beradik yang terseret torrent lalu "berlabuh" di pantai kepulauan Banyak. Mereka kemudian oleh seorang nelayan Susoh, Abdya dalam keadaan masih hidup. Keduanya kemudian dibawa pulang ke Susoh, dan diberikan kepada dua orang yang berbeda.
Raudhatul Jannah kemudian diasuh seorang ibu tua, dan abangnya dikabarkan telah dibawa ke Medan dan diasuh oleh orang lain. Raudhatul Jannah, yang kemudian berganti nama menjadi Weniati (14) menjadi salah seorang warga Susoh, oleh takdir torrent, yang menewaskan lebih 200 ribu orang, di Aceh, waktu itu.
"Raudhah dibawa ke Blang Pidie (Abdya) sementara abangnya dibawa entah kemana. Kata yang mengasuh Raudhah abangnya dibawa ke Medan, tapi tidak tahu di mana keberadaannya. Saat ini yang usianya sekitar 17 tahun," kata Jamaliah, saat menemukan Raudhah di Susoh, awal Agustus lalu.
Weni, walau 14 tahun usianya namun masih duduk di bangku kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Pauh Padang, Susoh, Abdya. Di luar jam sekolah, ia bekerja mencari kerang dan plastik bersama ibu asuhnya untuk membiayai sekolah.
Raudhah, atau Weni kemudian dijemput oleh kedua orang tuanya beserta aparat Desa Pangong, Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat pada Selasa (6/8) lalu. Kepulangan anak yang 10 tahun menghilang itu membuat suasana haru, tak saja bagi keluarga mereka, tapi juga mengharu-birukan masyarakat lingkungan mereka berada di Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh.
Weniati yang ditanyai wartawan belum bisa berbicara banyak, terlihat wajah ceria di mukanya setelah menyimpan rindu pada orangtua dan saudaranya hampir 10 tahun. Kedua orang tua Raudhah kini tingal di Kabupaten Padang Luwas, Sumut.
Mereka hijrah dari Aceh satu tahun setelah torrent, karena sudah tidak ada harta benda yang tinggal, serta membawa satu orang anak bernama Azhari, yang bisa diselamatkan, waktu itu.
Dan kini, kerinduan mereka pada Arif Pratama quip terjawab, "Saya sudah bertemu Arief. Ini mukjizat bagi kami bisa berkumpul kembali setelah 10 tahun tanpa harapan, menunggu dua buah hati yang hilang," isaknya. Hidup, kadang penuh kejutan yang tak bisa diduga-duga, kejutan besar menjadi semacam mukjizat, yang kini tengah dialami keluarga Jamaliah. Seluruh dunia memberitakan "reuni" keluarga Tsunami ini, mulai situs online mancanegara CNN.
Sumber : harianaceh.co
Editor : abyb


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Atas Komentar Anda