Krisis Oksigen Di RSUD Simeulue Mulai Teratasi

RSUD Simeulu
RSUD Simeulu

Sinabang - Kebutuhan oksigen (O2) serta obat-obatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Simeulue mulai teratasi setelah pasokan oksigen dan obat-obatan yang diperlukan tiba via kapal laut di Simeulue, Senin kemarin (12/5). Para pasien diharapkan tak lagi gelisah karena apa yang mereka butuhkan sudah tersedia dalam jumlah memadai di rumah sakit itu.


Kabar tentang tibanya pasokan oksigen dan obat-obatan itu disampaikan kepada wartawan melalui konferensi pers di ruang kerja Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Simeulue, Senin kemarin (12/5). Temu pers itu dihadiri Direktur RSUD, Kadiskes, Ketua IDI, serta Kabag Humas, dan Kabid Pelayanan RSUD Simeulue.

Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa krisis oksigen dan obat-obatan di RSU setempat sudah teratasi. “Semua yang kita pesan sudah tiba di Simeulue diangkut menggunakan kapal laut,” kata Direktur RSUD Simeulue, Asludin.

Ia berharap, para pasien dan keluarganya tidak lagi dilanda resah karena kebutuhan oksigen yang sebelumnya sempat susah didapat, kita sudah tersedia dalam jumlah yang cukup.

Asludin juga mengakui bahwa stok oksigen di RSUD itu sempat kosong dua-tiga hari, tapi bukan karena terlambat dipesan, melainkan karena begitu oksigen yang diorder itu tiba di Pelabuhan Simeulue, tidak bisa langsung dibongkar dari dek kapal. Soalnya, di palka kapal, oksigen dalam kemasan tabung itu tertindih oleh barang-barang lainnya yang kategorinya nonmedis.

Tapi sejak Senin pagi kemarin, kata Asludin, oksigen yang dibutuhkan pasien gawat darurat (emergency), sudah tersedia di rumah sakit, begitu juga dengan obat-obatan. “Selain itu dalam beberapa hari ini akan tiba lagi dan sekarang sedang dalam perjalanan,” katanya.

Direktur RSUD Simeulue juga menjelaskan mengapa oksigen kebutuhan rumah sakit itu kini harus dipesan dari luar daerah. “Soalnya, beberapa komponen pada sentral gas (alat pengolah oksigen) di rumah sakit ini rusak sejak tahun 2013,” ungkapnya seraya menyebutkan bahwa stok komponen yang rusak itu hanya ada di Amerika Serikat.

“Itu pun sudah kita pesan sejak Januari lalu. Tapi barangnya tak bisa diangkut lewat pesawat. Saya tak tahu kenapa,” ujar Asludin.

Ia tambahkan, sejak sentral gas itu rusak pada bagian molecul chip-nya, produksi gasnya sontak berkurang menjadi di bawah 90 persen. Kemudian, beberapa hari lalu rusak lagi pada tali poly-nya. Sejak itulah produksi gas di rumah sakit itu terhenti total. “Jadi, komponen yang kita pesan di Amerika itu sangat kita harapkan segera tiba,” ucapnya.

Selama kerusakan sentral gas itu belum teratasi, kata Asludin, maka kebutuhan oksigen dan obat untuk rumah sakit harus tetap dipesan dari luar Simeulue, misalnya, dari Medan, Sumatera Utara.

Direktur RSUD Simeulue itu juga membantah bahwa dua pasien yang masuk rumah sakit beberapa hari lalu meninggalnya karena tak maksimalnya pelayanan dan ketiadaan oksigen. “Ada kok dipasangi oksigen,” ujarnya mengklarifikasi pemberitaan Serambi kemarin.

Pada kesempatan yang sama, Kadiskes Simeulue, dr Armidin, berharap keluhan pasien terhadap pelayanan dan kelangkaan oksigen maupun obat di Rumah Sakit Simeulue itu tidak lagi terjadi di kemudian hari. “Oleh sebab itu, menjalin komunikasi dan memberikan pelayanan yang prima kepada pasien harus menjadi prioritas utama,” imbuhnya.

Terpisah, Anggota DPRK Simeulue dari Komisi D yang membidangi rumah sakit, Rahmanudin H Rahamin, sangat menyesalkan pelayanan RSUD Simeulue akhir-akihir ini karena sering dikeluhkan pasien.

Padahal, menurutnya, dengan perubahan status menjadi badan layanan umum daerah (BLUD) seyogianya mutu pelayanan makin meningkat dan berbagai permasalahan yang selama ini terjadi di RSU itu bisa teratasi dengan baik.

“Manajemen RSU seharusnya sudah paham dengan kondisi Simeulue yang terpencil di tengah laut begini. Mekanisme pengadaan stok obat dan pelayanan dasar seperti ketersediaan oksigen haruslah benar-benar dicermati, tidak boleh lengah dan lalai. Soal anggaran tak masalah, kita (dewan -red) sangat berpihak pada kebutuhan kesehatan. Sekarang tinggal pengelolaan saja yang perlu ditingkatkan,” ucapnya.

Dari Banda Aceh dilaporkan, penyediaan oksigen dan obat-obatan penting lainnya bagi pasien darurat di RSUD sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak manajemen rumah sakit yang bersangkutan. Begitu pula di RSUD Simeulue.

“Untuk mengatasi sering terlambatnya suplai oksigen dari daratan Aceh, karena faktor gangguan transportasi penyeberangan kapal dari Blangpidie ke Sinabang dan lainnya, Pemkab Simeulue sudah pernah membeli alat pengolah oksigen. Tapi apakah alat itu tidak berfungsi lagi,” kata Taqwallah di Banda Aceh kemarin.

“Informasi yang kami peroleh dari sumber RS Simeulue, direkturnya baru diganti. Setelah pergantian itu, pihak manajemen RS yang baru mungkin kurang mengontrol stok bahan habis pakai seperti oksigen, obat-obatan, dan peralatan operasi lainnya, sehingga pada saat hendak dibutuhkan barangnya tak tersedia.”

Oleh karera itu, kata Taqwallah, orang yang menjadi direktur RS di Simeulue, harus memahami masalah transportasi lautnya dan kondisi daerah di pulau itu lebih dulu.



sumber:serambinews
Krisis Oksigen Di RSUD Simeulue Mulai Teratasi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Zone Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas Komentar Anda