![]() |
| Irwandi Yusuf |
Apa yang sesungguhnya yang dicari Prabowo Subianto sehingga ia merasa penting untuk dekat dengan tokoh-tokoh Partai Aceh? Benarkah Prabowo membutuhkan suara dari Aceh agar ia mulus melangkah sebagai calon Presiden 2014-2019?
Inilah pertanyaan yang kerap dilontarkan banyak orang dalam berbagai diskusi yang diselenggarakan di Aceh. Kalau pertanyaan ini diajukan kepada saya, maka saya akan menjawab bahwa Prabowo sebenarnya tidak menganggap penting meraup suara dari Aceh. Bahwa ia butuh dukungan, itu benar. Tapi Aceh bukanlah wilayah yang strategis untuk ia galang.
Pemilih di Aceh hanya sekitar 3 juta. Jumlah itu relatif kecil dibanding Provinsi lain, seperti Sumatera Utara yang pemilihnya mencapai 11 juta, Sumatera Selatan 6 juta, Jawa Barat yang mencapai 32,5 juta, atau Jawa Timur yang bahkan mencapai 37,2 juta.
Jadi kalau dikatakan Prabowo merasa antusias meraup dukungan suara dari Aceh, ini salah besar. Jika pertimbangannya politik, ketimbang di Aceh, lebih baik ia menghabiskan energi dan dana untuk menaikkan citra di daerah-daerah yang jumlah pemilihnya lebih gemuk. Hasilnya pasti lebih signifikan untuk mencapai kursi Presiden.
Dalam pandangan saya, kepentingan Prabowo di Aceh tidak lain adalah bisnis. Kebijakan Irwandi Yusuf yang menghentikan seluruh aktivitas penebangan hutan di wilayah Aceh membuat bisnis Prabowo di wilayah ini terhenti. Sudah pasti ia sangat kecewa dengan langkah Irwandi itu.
Selain sebagai pemilik PT Tusam Hutan Lestari, keluarga Prabowo juga sudah mengintip berbagai potensi bisnis lainnnya di Aceh, termasuk blok migas di wilayah Pulau Banyak, Aceh Singkil. Cadangan minyak bumi di wilayah itu dinilai sangat ekonomis untuk dieksplorasi. Namun untuk mendapatkan izin eksplorasi, tentu sulit diperoleh manakala tidak punya hubungan yang baik dengan Gubernur. Sebagai daerah otonomi khusus, Pemerintah Aceh memang memiliki kewenangan dalam memberi izin untuk eksplorasi sumber daya alam. Undang-Undang Pemerintah Aceh menegaskan masalah ini.
Makanya, ketika berlangsung pemilihan Gubernur Aceh pada 2012, Prabowo berharap agar Irwandi Yusuf tidak terpilih untuk kedua kalinya. Jika Irwandi menang lagi, rencana bisnisnya akan hancur.
Kebetulan Irwandi sendiri sedang menghadapi perlawanan hebat dari politisi Partai Aceh yang mengusung pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Di sisi lain, Irwandi juga tidak punya hubungan yang baik dengan sejumlah petinggi militer yang pernah bertugas di Aceh. Salah satunya dengan Mayjen TNI Soenarko.
Sewaktu Soenarko menjabat sebagai Panglima Kodam Iskandar Muda ( Juli 2008 - November 2009), Irwandi kerap berselisih paham dengannya. Malah Irwandi mencurigai kalau Soenarko adalah salah satu aktor di balik kekerasan yang terjadi pada Pemilu Legislatif 2009 di Aceh. Irwandi pernah mengadukan masalah Soenarko ini dalam sebuah pertemuan khusus dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.
Saat Pemilu legislatif 2009, hubungan Irwandi dan Partai Aceh masih mesra. Ia adalah salah juru kampanye Partai Aceh di sejumlah wilayah. Ia mengaku sempat bertaruh nyawa saat berkampanye untuk Partai Aceh di wilayah Aceh Tengah. “Saya mau dibunuh. Untung granat yang ditarok di bawah podium tidak meledak,” katanya tanpa menyebut siapa pihak yang hendak membunuhnya.
Pengaduan Irwandi ke Presiden soal Soenarko juga dilaporkan oleh situs terkenal yang menghebohkan dunia, wikileak. Pengaduan itu pula yang membuat karir Soenarko di TNI meredup.
Pada 20 November 2009, Soenarko digantikan oleh Brigjen TNI Hambali Hanafiah yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Cenderawasih, Papua. Soenarko dipindahkan ke Bandung, sebagai Komandan Pusat Persenjataan Infanteri. Tak lama kemudian ia mutasi lagi sebagai staf ahli Kasad dan selanjutnya sebagai perwira tinggi di Mabes TNI, hingga pensiun pada akhir 2011.
Soenarko sendiri dikenal memiliki hubungan sangat dekat dengan Prabowo. Meski Prabowo sudah lama melepaskan karirnya di TNI, namun sebagai mantan Komandan Koppasus, ia masih punya pengaruh di jajaran TNI. Soenarko adalah mantan anak buah Prabowo sewaktu keduanya aktif di Koppasus. Sebelum ditugaskan sebagai Panglima Kodam Iskandar Muda, Soenarko adalah Komandan Jenderal Koppasus.
Dalam berhubungan dengan Irwandi, keduanya bernasib sama. Sama-sama kecewa. Makanya, saat berlangsung Pemilu Gubernur Aceh 2012, Soenarko langsung merapat ke kubu Partai Aceh. Ketika itu Partai Aceh dan Irwandi sudah bersebarangan jalan. Malah saling ‘serang menyerang’.
Irwandi maju melalui jalur perseorangan, sedangkan Partai Aceh mengusung Zaini dan Muzakir. Kehadiran Soenarko sebagai pendukung pasangan Zaini – Muzakir disebut-sebut sebagai bagian scenario politik Prabowo untuk menjungkalkan Irwandi.
Mencuat isu kalau Prabowo memberi sumbangan hingga Rp 50 miliar untuk membantu kampanye Partai Aceh ketika itu. Dalam berbagai kampanye di sejumlah daerah, kubu Irwandi acap sekali menyampaikan ke publik soal kedekatan Prabowo dan Partai Aceh ini. Kubu Irwandi juga mengungkap keterlibatan Prabowo sebagai penyandang dana bgi kampanye Partai Aceh.
Sofyan Dawood, Ketua Tim Kampanye Irwandi saat berorasi di Lapangan Bola Kaki Landeng, Aceh Utara, Kamis 29 Maret 2012 pernah menyampaikan itu secara langsung kepada masyarakat. Di depan ribuan massa yang memadati lapangan itu, Sofyan menyebutkan kalau Probowo mengucurkan Rp 50 miliar untuk memenangkan pasangan yang diusung Partai Aceh. Sofyan menuding bantuan itu merupakan indikasi bahwa Partai Aceh hendak menjual Aceh ke pihak lain.
Pihak Partai Aceh menampik tuduhan tersebut. Oleh Partai Aceh, pernyataan Sofyan Dawood itu dianggap sebagai black campaign. Meski demikian, seiring perjalanan waktu, kedekatan antara Prabowo dan Partai Aceh tak terbantahkan lagi. Prabowo pula yang meminta Muzakir Manaf duduk sebagai dewan penasihat Partai Gerindra di Provinsi Aceh.
Aturan hukum memang tidak melarang pengurus partai lokal bergabung menjadi pengurus partai nasional, begitu pula sebaliknya. Makanya, posisi Muzakir Manaf sebagai Ketua Partai Aceh dan sebagai Ketua Dewan Penasihat Gerindra Aceh tidak mengundang perdebatan hukum.
Saat ini Partai Aceh adalah penguasa di parlemen Aceh. Dalam pemilu gubernur Februari 2012, partai ini sukses mengantarkan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017. Keduanya dilantik oleh Menteri Dalam Negeri pada 25 Juli 2012.
Sebagai catatan, tamu pertama yang diterima Zaini Abdullah di ruang kerjanya adalah Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo. Hashim masuk ke ruangan gubernur didampingi oleh Soenarko.
Tidak banyak yang tahu apa yang dibahas dalam pertemuan itu. Yang jelas, tak lama setelah pertemuan itu, Gubernur Zaini Abdullah mengeluarkan izin eksplorasi ladang minyak di Blok Singkil. Eksplorasi ladang minyak itu akan dikelola oleh perusahaan miliki Hashim Djojohadikusumo. Hashim juga telah menandatangani kesepahaman rencana pembangunan pabrik padi modern dengan Pemerintah Aceh di Seunudon, Aceh Utara. Bukan tidak mungkin pula kalau operasi PT Tusam Hutan Lestari yang sempat dibekukan di masa Irwandi, akan kembali aktif.
Dalam Pemilu Legislatif 2014, Gerindra dan Partai Aceh dikabarkan saling bergandengan tangan. Partai Aceh akan menopang perolehan suara Gerindra untuk DPR RI. Tapi, ini bukanlah prioritas utama Prabowo di Aceh. Bisnis di Aceh lebih menggiurkan baginya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Atas Komentar Anda