KERAJAAN ACEH BERDAULAT SEJAK TAHUN 1200

KERAJAAN  ACEH BERDAULAT SEJAK TAHUN 1200
Kerajaan Aceh
Sultan Johansyah Mendirikan Kerajaan Aceh pada Tahun 1200 dan ketika Itu Keradjaan Aceh telah memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan skala internasional dengan Negara-Negara eropa, bahkan Keradjaan Atjeh memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Keradjaan Turky  juga Tjina, India dan Campa (Thailand).
Dirham tertua yang dibuat dari emas murni yan pernah ditemukan di Tanah Atjeh bertarikh Tahun 1297, masa Kesultanan Malikul Zahir, sementara negeri yang bernama indonesia itu, entah berantah dimana terpendam dalam luasnya Bumi Allah.
Pada Tahun 1874, penjajah kolonial kafirin  hollande bersama portugis sangat ingin menguasai Tanah Atjeh yang sangat kaya dengan  sumber daya alamnya, seperti Pala,Nilam, Emas, Cengkih, Kayu Manis, Kopi, Lada dan intan berlian yang sangat banyak baik di daratan maupun Samudera Atjeh. Penjajahan kolonialis kafirin hollande yang didukung poros iblis, portugis, hingga saat Indonesia merdeka, pada Tanggal 17 Agustus 1945, karena jepun di hadiahi Bom Atom oleh Amerika Serikat di Nagasaki dan Hiroshima pada tanggal 8 dan 9 Agustus 1945, menyebabkan kerajaan jepun bakeroy itu harus takluk kepada kekuasaan ameriki dan sekutu-sekutunya, melepaskan wilayah-wilayah Asia yang ingin terus dikuasai jepun bakeroy  yang kekejamannya juga tak jauh beza dengan hollande, portugis, AS dan Inggeris.
Betapa jauh jarak antara Tahun 1200, tahun berdaulatnya Keradjaan Ajeh yang tercatat dalam sejarah Dunia  dengan kemerdekaan yang diperoleh oleh negara yang diberi nama hindusia/indonesia, pada Tahun 1945, dan itu tak akan pernah bisa dihilangkan oleh sesiapapun mereka yang ingin menenggelamkan sejarah kedaulatan Atjeh yang telah menjadi takdir dalam peradaban Bangsa-Bangsa di Bumi Allah Yang Maha Kuasa ini.
Kami mengupas secara ringkas Sejarah kerajaan aceh yang  Berdaulat ini, agar Bansa Atjeh menyadari  betapa sesungguhnya kita adalah Bansa yang besar yang Kedaulatannya telah menebar dipenjuru dunia sejak tahun 1200  [mungkin bisa jauh sebelum tahun itu], sedangkan adanya negara yang diberi nama hindusia itu lahir pada tanggal 17 Agustus 1945, keberadaan yang baru diakui oleh dunia internasional  745 tahun setelah berdaulatnya Kerajaan Atjeh yang menjadi bagian sejarah Bansa-Bansa yang menguasai pertahanan, politik dan ekonomi yang sangat dihormati dimasa itu, juga hubungan diplomatik yang sangat akrab penuh persaudaraan dengan Keradjaan Turki serta  Kerajaan di Timur Tengah, Eropa dan Russia.
Dalam beberapa hari ini di Kota Banda Aceh, tepatnya di Krueng Doy Kecamatan Kuta Radja, Kota Banda Aceh oleh seorang Muslimah Atjeh yang mata pencahariannya sehari-hari sebagaimana kebanyakan Muslimah_Muslimah Atjeh yang mendiami tepi Krueng Doy adalah mencari  tiram untuk dijual setiap harinya.  Muslimah itu saat menetak-netak parang [pedang] untuk mendapatkan bongkahan tiram bersarang, menetak sebuah peti besi yang lumayan besar bunyinya dalam air sungai setinggi pinggang orang  dewasa. Merasa penasaran sebagaimana watak sejati Muslimah Atjeh, ibu itu meraba dengan tangannya, apakah gerangan benda yang tela memantulkan bunyi keras karena tetakan pedang/parang yang ia gunakan puluhan tahun mengais raseuki bagi kehidupa anak-anaknya itu?
Ternyata sebuah peti lumayan besar dan berat yang telah dipenuhi oleh tiram-tiram sebagai tempat koloninya berkembang di Sungai Doy yang memiliki sejarah gemilang dalam masa Keradjaan Atjeh berdaulat sejak Tahun 1200 yang silam.
Kegagahan darah Pejuang Muslimah Atjeh mengalir deras pada diri sang ibu pencari tiram itu, ia buka peti tembaga yang berat dan kokoh itu dengan pedangnya, dan ia ambil secukupnya dirham-dirham emas berkilau secukupnya dunia siarkan kabar penemuannya pada orang-orang sekampung tempat ia menetap, [ 11 November 2013 ], dan mulailah berduyun-duyun orang datang ingin juga mendapatkan dirham-dirham emas mata uang kerajaan aceh yang telah beredar sejak 5045 Tahun yang silam. Banyak yang mendapatkan kepingan dirham emas mulia itu, namun ribuan orang juga gigit  jari karena ya belum rezekinya, tentu. Bahkan kelmarin, seorang pemuda menemukan 2 bilah pedang yang gagangnya berlapiskan emas murni serta bilahnya terbuat dari besi putih yang sangat berseni. Pedang yang sangat indah itu diperkirakan dibuat pada tahun 1205, dan kini pedang tersebut telah disimpan oleh pejabat yan berwenang, entah apa wewenangnya dan sesiapa pula yang memberikan kewenangan itu padanya, nyan hom hay.
Seperti biasa, di negeri yang memperoleh kemerdekaannya saja tahun 1945, ada pejabat kaki tangan jawakarta, berkomentar, bahwa kemendikbud, akan analisa semua dirham-dirham emas temuan Rakyat Atjeh, dan kepada seluruh rakyat yang menemukannya diminta segera mengembalikannya! Nanti seluruhnya harta karun itu harus dikuasai jakarta! [Bagaimana bisa jawakarta berkuasa terhadap Rakyat Atjeh yang telah berdaulat sejak tahun 1200?, sedangkan jawakarta mendapat hadiah kemerdekaan dari jepunitu 745 tahun kemudian?]

Tentu penting menjaga keutuhan nilai-nilai sejarah Bansa Atjeh, kemegahan  sejarah berdaulatnya Keradjaan Atjeh sejak abad kesebelas yang silam. Namun bukan hak jawakarta dan sedikitpun tidak berhak mengklaim bahwa seluruh peninggalan sejarah Mulia Bansa Atjeh harus menjadi wewenang jawakarta menganlisanya. Negara yang bau mendapat kemerdekaannya  itu ditahun 1945, sangat ingin memudarkan kebesaran sejarah Bansa Atjeh, itulah sebenar dan sejelasnya niat licik penguasa jawakarta beserta antek-anteknya yang berada di pemerintahan Aceh.
Kita Rakyat Atjeh, wajib mewaspadainya, berulang kali, pusat mengkhianati kita, bagaimana Rakyat Atjeh telah berkorban dalam membantu berdirinya Repoblik Indonesia, ketika baru merdeka, mengumpulkan seluruh emas untuk membeli 3 (tiga) kapal terbang Garuda Indonesia Airways (GIA), Teuku Markam menyumbang Emas Murni yang membalut puncak Tugu Monas, Gas Alam rakyat Atjeh disedot habis tanpa sisa di Aceh Utara, juga hutan Tanah Aceh dibabat sangat biadab, bahkan ribuan nyawa Rayat Atjeh dihabisi secara sistemik, licik, keji dan pengecut  saat konflik berdarah melawan rezim suharto.

Syedaraku, Bansa Atjeh, sekali-kali janga pernah lupakan sejarah, jangan pernah lupakan pengkhianatan mereka atas kita, dan itu akan terus mereka lakukan melalui kaki tangan mereka yang adalah juga orang-orang yang mengaku dirinya Bansa Atjeh, yang kini kuasai Pemerintahan di Provinsi Aceh.
Salah satu trik licik penguasa jawakarta menghancurkan Kekuatan Rakyat Atjeh yan sangat kental keIslamannya adalah melalui tangan-tangan anggota DPR-RI, MPR, DPD, DPRA dan DPRK yang oleh jawakarta diberi imbalan gaji yang dikutip paksa dari kita sendiri dalam bentuk gaji yang sangat fantastis, bahkan diberi keleluasaan untuk menentukan APBA bagi kenyamana maksimum mereka dengan label Dana Aspirasi D[H]ewan DPRA yang jumlahnya mencapai Triliunan sejak tahun 2009-2014. Sengaja mereka disuruh untuk secara bersama-sama menghancurkan Rakyat Atjeh sehancur-hancurnya, apakah yang ada mereka buat untuk meningkatkan kehidupan Rakyat Atjeh sampai saat ini?, tak ada konstribusi mereka bagi peningkatan kehidupan yang berkecukupan Rakyat Atjeh, siswa/mahasiswa dan para guru di Tanah Rencong. Hanya menjelang pemilu mereka datang seakan pahlawan yang telah berjasa banyak membela Rakyat, semua cuap para bedebah keparat tu demi Rakyat, faktanya demi perut busuk/korup mereka.

Sebagai penutup, aku akan mengajak kita kembali seagai Bansa Atjeh untuk mengingat  perjuangan tanpa batas yang dilakukan oleh The Martyr Of Atjeh, Tengku Muhammad Hasan Di Tiro, dalam diary beliau masa geriya yang diterbitkan di London pada Tahun 1981 dengan Judul : The Price of Freedom [] The Unfinished Diary ofTengku Hasan Di Tiro.     

Diary yang memuat eksistensialisme bukan lagi sekedar gagasan , namun nyata aksi politik (politician Action), dalam Diary itu, tentang strategi tempur, taktik gerilya, negasi atas sejarah indonesia [yang baru memperoleh kemerdekaan tahun 1945], sampai komtepelasi hidup dan kematian, terajut dalam satu garis biru ; upaya rekonsruksi sejarah, Dan yang sangat mempersona, Tenku Hasan Muhammad Di Tiro mengolah paragraf dari Nietzsche dalam tafsirnya atas moment Kesejarahan Bansa Atjeh.
Dari titik takdir itulah perjumpaannya denga Nietzsche menjadi renungan yang sangat dahsyat dalam diri beliau yang teguh itu. Saat membaca “Thus Spoke Zarathustra” dan sejumlah karya lainnya dari Nietzsche, beliau mendapat spirit yang sangat kuat. Beliau menyadari dalam dirinya mengalir Darah Biru Pejuang.

Dalam pembukaan Diarynya, Tengku Hasan Muhammad Di Tiro mengutip satu bagian dari Zarathustra ; petikan pada Bab “On War and Warrors” ....                                                                                  
To you I do not recommend work but struggle [] To you I do not reccomend peace but victory [] Let your work be a struggle [] Let you peace be a victory!  

Ada dua moment sangat kokoh yang terangkum dalam Diary beliau itu. :

Pertama, ketika beliau menangkap apa yang disebutnya “Moment Kebenaran” ; menemukan kembali spirit Patriotisme Atjeh yang hilang. Ituterjadi di tahun 1968, saat beliau membaca arsip ”The New York Time” yang terbit sepanjang Bulan Mei 1873. Saat kerajaan kafirin hollande menyerang Keradjaan Atjeh. Editorial koran ternama itu mengakui kapasitas Kesultanan Atjeh yang sangat gagah berperang melawan penjajahan kolonial belanda. Bagi Tengku Hasan Muhammad Di Tiro itu adalah fakta sejarah yang tak bisa dihilangkan oleh sesiapapun apalagi jawakarta!, bahwa Keradjaan Atjeh adalah “Old State”, Negara Tua yang Berdaulat sejak tahun 1200. Semua itu beliau tulis dalam buku beliau  “ATJEH BAK MATA DONYA” yang dterbitkan pada tahun 1968 di New York. Beliau menyimpulkan bahwa “Energi Perlawanan Bansa Atjeh” pada masa itu menyala adalah karena kuatnya spirit Jihad dari generasi Bansa Atjeh,mereka sangat memahami dan menyadari bila hidup secara Mulia dan Mati secara Syahid.

Beliau menyesalkan Generasi Bansa Atjeh saat ini, yang menurut beliau menderita “ketaksadaran sejarah”, menjadikan diri penjilat/pengkhianat Bansa Atjeh, sebagai budak-budak kepada rezim korup jawakarta.

Moment kedua yang menginpriasi pejuang yang mengambil Program Doktor pada Universitas Columbia itu, beliau meletakkan dirinya sebagai pusat bagi kelanjutan sejarah Atjeh Komtemporer. Tengku Hasan Muhammad Di Tiro merasa terpanggil memberikan tubuh dan jiwanya kepada Tanah Rencong, Bumi Sultan Iskandar Muda Keradjaan Atjeh yang berdaulat sejak Tahun 12000
Antropolog besar, James T. Siegel dalam epilog “The Rope Of God”, karya klasik sejarah perjuangan di Tanah Rencong, menyebut Tengku Hasan Muhammad Di Tiro “terpanggil” Kewajiban sejarah, yang diyakininya sebagai “takdirnya”, yang mesti ia jalankan.
KERAJAAN ACEH BERDAULAT SEJAK TAHUN 1200 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Zone Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas Komentar Anda