![]() |
| Maulwi Saelan |
Berikut adalah 10 pemain legendaris indonesia yang perlu kita kenang
1. Maulwi Saelan
Maulwi Saelan (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 1928 umur
85 tahun) adalah salah satu pemain sebak bola legendaris dan juga
pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia juga pernah menjadi salah satu ajudan
pribadi presiden Soekarno. Selain itu ia dikenal juga sebagai pendiri
Taman Siswa Makassar.
Maulwi Saelan merupakan anak Amin Saelan, tokoh nasional di Makassar dan
pendiri Taman Siswa di kota itu. Dia bergabung dengan tim nasional
Indonesia sekitar tahun 1954-1958 dan berkontribusi besar dalam keberhasilan
Indonesia menembus empat besar Asian Games 1954 dan meraih medali
perungggu di Asian Games 1958.
Salah satu penampilan heroik Maulwi adalah ketika menghadapi Rusia di
Olimpiade Melbourne, 17 November 1958. Indonesia kala itu berhasil
menahan imbang Uni Soviet yang merupakan salah satu tim terkuat Eropa
dan dunia. Maulwi Saelan berjibaku menahan gempuran Igor Netto, Sergei
Salnikov, dan Boris Tatushin. Skor 0-0 bertahan hingga akhir
pertandingan.
2. Yudo Hadianto
![]() |
| Yudo Hadianto |
Yudo Hadianto (lahir di Solo, Jawa Tengah, 19 September 1941; umur 72
tahun) adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia era
1960-an dan 1970-an. Pada masanya ia sempat diakui sebagi kiper terbaik
Asia. Selain itu ia pernah kuliah di Fakultas Ekonomi UI periode
1960-1963 tetapi tidak selesai.
3. Yuswardi
![]() |
| Yuswardi |
Yuswardi (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 Juli 1945; umur 68 tahun)
adalah mantan pemain nasional sepak bola Indonesia pada era 1970-an yang
saat ini melatih tim PSMS Medan. Bersama Hengky Heipon ia juga pernah
melatih timnas PSSI Perserikatan
4. Simson Rumahpasal
![]() |
| Simson Rumahpasal |
Simson RumahPasal (lahir di Desa Lohiatala, Seram Barat, Maluku, 21
Agustus 1950; umur 63 tahun) adalah mantan pemain nasional sepak bola
Indonesia pada era 1970-an dan awal 1990-an
Spesialis bek kanan dan Mantan pemain nasional berdarah Maluku ini cukup
lama membela tim Merah Putih. Kepiawaiannya menghalau serangan yang
datang dari sektor kiri, membuat posisi bek kanan timnas selalu
dipercayakan pada Simson di era pertengahan 70-an hingga awal 80-an.
Tak kurang dari delapan tahun Simson mengawal sektor pertahanan timnas.
Dalam kurun itu, ia sempat tampil di sejumlah ajang internasional,
seperti Merdeka Games, Pra Olimpiade, King’s Cup, SEA Games dan Pra
Piala Dunia.
Usai gantung sepatu, Simson memiliki keinginan untuk membagi ilmu yang
dimilikinya pada para pemain muda dan membuatnya sekarang menekuni
profesi baru sebagai pelatih.
Sebagai pelatih, Simon tercatat sempat bergabung dengan sederet klub
diantaranya Persikota Tangerang, Warna Agung, Persita Tangerang,
Persijatim Jakarta Timur, PS Ketapang, Persipon Pontianak, Persika
Karawang dan PS ABRI.
5. Yohanes Auri
![]() |
| Yohanes Auri |
Yohanes
Auri atau dikenal dengan julukan Black Silent (lahir di Manokwari,
Papua, 30 Oktober 1954; umur 59 tahun) adalah pemain sepak bola
Indonesia. Ia bermain sebagai pemain belakan pada tim Persipura dan
Persija dan pernah menjadi anggota tim nasional sepak bola indonesia
pada periode 1970-an.
6. Didik Darmadi
![]() |
| Didik Darmadi |
Didik Darmadi (lahir di Solo, Jawa Tengah, 14 Maret 1960; umur 53 tahun)
adalah pemain sepak bola Indonesia. Ia beberapa kali terpilih sebagai
anggota tim nasional Indonesia untuk Pra Piala Dunia. Didha, nama
panggilannya, sejak tahun 1981 tak pernah absen dari tim nasional. Ia
juga merupakan salah satu lulusan PSSI Binatama.
Pelatih yang membesarkannya adalah Djamiat Dhalhar dan Sutjipto Suntoro.
Karirnya diawali di klub Adidas HWM Solo, kemudian besar di klub Warna
Agung. Pada tahun 1982, ia hijrah ke Indonesia Muda. Didha adalah
pengagum Anwar Sadat.
7. Anwar Ujang
![]() |
| Anwar Ujang |
Anwar Ujang (lahir di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, 2 Maret 1945; umur
68 tahun) adalah mantan pemain nasional sepak bola Indonesia di era
1970-an dan 1980-an dari Klub Persika Karawang.
Sebelum menjadi pemain sepak bola sempat menjadi karyawan Pertamina pada tahun 1960.
Pemain dengan nomor punggung 5 ini pertama kali bergabung dengan PSSI
pada April 1965 dan menjadi Kapten PSSI pada tahun 1971 - 1974. Pada
masa jayanya, ia sering dijuluki Beckenbauer Indonesia dan bersama tim
Indonesia sering melakukan pertandingan-pertandingan melawan tim dari
Eropa dan Asia.
8.Robby Darwis
![]() |
| Robby Darwis |
Robby Darwis (lahir di Bandung, Jawa Barat, 30 Oktober 1964; umur 49
tahun) adalah seorang pemain sepak bola legendaris Indonesia yang
terkenal pada tahun 1990-an dan merupakan salah satu bintang Persib
Bandung pada era tersebut.
Ia berposisi sebagai stoper (bek tengah). Pada musim pertama Liga
Indonesia, ia membawa Persib menjadi juara sebagai kapten tim. Darwis
pernah pula bermain di Liga Malaysia, memperkuat Kelantan FC. Di tim
nasional Indonesia (1987-1997), ia tampil sebanyak 53 kali dan mencetak 6
gol.
Tahun 2010 Robby menjadi pelatih sementara Persib menggantikan Jaya Hartono yang mundur. Tahun 2011 Robby menjadi pelatih tetap Persib, di AFF 2012 dia jadi asisten pelatih.
9.Ronny Pattinasarani
| Ronny Pattinasarani |
Ronald Hermanus Pattinasarany atau lebih dikenal dengan nama Ronny
Pattinasarany (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 9 Februari 1949 –
meninggal di Jakarta, 19 September 2008 pada umur 59 tahun) adalah
pelatih sepak bola Indonesia dan salah satu pemain sepak bola legendaris
Indonesia.
Ronny meninggal dunia pada Jumat-19 September 2008, pukul 13:30 WIB,
dalam usia 59 tahun, akibat kanker hati yang dideritanya sejak Desember
2007. Ronny pergi meninggalkan seorang istri, Stella Pattinasarany, dan 3
anak: Benny, Yerry, dan Cita yang mendampinginya sampai saat-saat
terakhir di Rumah Sakit Omni Medical Center, Pulo Mas, Jakarta Timur.
10. Herry Kiswanto
![]() |
| Herry Kiswanto |
Herry Kiswanto (lahir di Banda Aceh, Aceh, 25 April 1955; umur 58 tahun)
adalah seorang pelatih sepak bola Indonesia dan salah satu pemain sepak
bola legendaris Indonesia. Posisinya di lapangan sebagai libero. Dalam
kariernya ia hanya pernah mendapat sekali kartu kuning.
Herry memulai karir sebagai pemain pada 1979, ketika ia bergabung dengan
Pardedetex Medan setelah pemilik klub TD Pardede tertarik dengan
permainannya. Awalnya dia berposisi gelandang, namun mengikuti saran
dari Kamaruddin Panggabean, dia mulai bermain sebagai libero.
4 tahun kemudian ia pindah ke Yanita Utama, dan bermain 2 tahun sebelum
pindah ke Krama Yudha Tiga Berlian pada 1985.Dia mencapai kesuksesan
bersama Yanita Utama and Krama Yudha Tiga Berlian sebagai juara Galatama
selama 4 tahun berturut-turut pada era 1983–1987.Dia bertahan di Krama
Yudha Tiga Berlian sampai 1991.
Dia terkenal sebagai pemain yang sportif dimana ia hanya mendapatkan
satu kartu kuning dalam 17 tahun karir. Kartu itu didapatnya saat
memperkuat Krama Yudha Tiga Berlian melawan tuan rumah Pelita Jaya di
Stadion Lebak Bulus, Jakarta, setelah memprotes (dalam perannya sebagai
kapten) keputusan wasit.
Sumber: kaskus.co.id









Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Atas Komentar Anda